Beranda > Keuangan Negara > REDENOMINASI, JANGAN PANIK !

REDENOMINASI, JANGAN PANIK !

Bagi anda yang pernah berkunjung ke luar negeri, terutama negara-negara yang tingkat ekonominya lebih baik dari Indonesia, tentunya pernah merasakan betapa tidak berharganya rupiah kita dibandingkan dengan mata uang mereka.  Bagaimana tidak, rupiah masuk dalam kategori 10 mata uang termurah di dunia dan 3 mata uang termurah di Asia Tenggara bersama Vietnam dan Laos (wikipedia.org).  Untuk memperbaiki posisi tersebut, baru-baru ini Bank Indonesia (BI) mewacanakan Redenominasi Rupiah.  Apa itu Redenominasi ? apa bedanya dengan sanering ? bagaimana proses itu sebaiknya dilakukan ?

Redenominasi dapat diartikan pemotongan nilai mata uang tanpa mengubah nilai tukarnya.  Misalnya, saat ini dengan uang Rp. 10.000,- kita bisa membeli semangkuk mie baso, jika kemudian dilakukan redenominasi dengan menghapuskan tiga angka 0 dibelakang, maka uang Rp. 10.000 akan jadi Rp. 10,- yang juga bisa membeli semangkuk mie baso dengan jenis dan kualitas yang sama.

Sedikit berbeda dengan sanering, yang dulu pernah dilakukan pemerintah orde lama, dimana sanering adalah memotong nilai tukar uang, yang bisa menyebabkan orang kaya jatuh miskin dan yang miskin semakin miskin.  Bayangkan saja, jika saat ini kita memiliki uang Rp. 10.000.000,- yang setara dengan 1 unit sepeda motor, jika dilakukan sanering dengan menghapuskan tiga angka 0 dibelakang, maka nilainya tinggal Rp. 10.000,- yang hanya bisa digunakan untuk membeli semangkuk mie baso.

Namun demikan proses redenominasi tidaklah sesederhana hitung-hitungan diatas, harus ada kesiapan yang matang dari seluruh perangkat yang terlibat.  BI sendiri mengakui bahwa untuk melakukan redenominasi paling tidak diperlukan 3 kondisi awal sebagai syarat, yaitu :  inflasi berada pada kisaran rendah dengan pergeseran yang stabil, stabilitas perekonomian terjaga dan adanya jaminan stabilitas harga, dan yang terakhir adalah kesiapan masyarakat dalam menghadapi kebijakan ini.  Artinya pengambilan kebijakan ini bukanlah tanpa risiko, terlebih jika syaratnya tidak terpenuhi.

Syarat pertama dan kedua kita percayakan saja kepada pemerintah dan BI, tetapi syarat yang ketiga dibutuhkan pemahaman yang mendalam dari seluruh masyarakat.  Inilah kendala utamanya, hal ini menuntut BI untuk melakukan sosialisasi ke seluruh Indonesia, tentu saja dengan segala konsekuensi biaya yang pasti tidak sedikit.  Tanpa pemahaman masyarakat, maka syarat pertama dan kedua yang dibangun oleh pemerintah dan BI akan menjadi sia-sia, alih-alih ingin memperbaiki citra rupiah, rupiah malah semakin anjlok, sehingga redenominasi yang dilakukan dampaknya akan lebih mirip dengan sanering.

Bagaimana Prosesnya ?

Pada prosesnya, redenominasi bukan tidak mungkin menimbulkan kebingungan dimasyarakat dan sangat mungkin dijadikan peluang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, untuk memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi.  Jika benar-benar BI akan melakukan redenominasi, berikut ini ada beberapa cara sederhana yang bisa membantu lancarnya proses redenominasi.

Pertama, dilakukan sosialisasi yang intensif kepada masyarakat, dengan membiasakan menyebut harga barang dengan nilai yang sudah diredenominasi.  Petugas pom bensin harus mengatakan harga premium adalah Rp. 4,5.  Beras dengan harga Rp. 6.000 per kilogram, harus disebut dengan Rp. 6.  Walaupun dikalangan pedagang, sebutan ini sudah tidak asing lagi, karena ketika penulis berbelanja di sebuah pasar tradisional di Bandung, seorang pedagang mengatakan “dua belas” (bukan dua belas ribu) untuk harga sekaleng daging olahan seharga Rp. 12.000.

Kedua, mungkin sedikit menggelikan, tetapi penting.  Dengan pengambilan kebijakan redenominasi tentunya BI akan menerbitkan pecahan uang baru dengan nominal yang lebih kecil tetapi dengan nilai tukar yang sama.  Untuk uang yang diterbitkan selama masa transisi cantumkanlah kata-kata yang menyatakan bahwa uang tersebut bernilai sama dengan uang terbitan lama, misalnya :  pada uang pecahan Rp. 5 cantumkanlah dengan jelas “Uang ini bernilai sama dengan Rp. 5.000 pada terbitan lama”.  Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat awam sekalipun.

Ketiga, pada masa transisi pasti akan beredar 2 jenis uang, yaitu terbitan lama dan terbitan baru, hal ini tidak menjadi masalah karena pasti BI akan menarik uang lama secara perlahan.  Namun demikian, nilai uang terbitan lama harus dinilai sama dengan uang terbitan baru yang setara, misalnya uang Rp. 5.000 terbitan lama harus diperlakukan sama dengan Rp. 5 terbitan baru.  Hal inilah yang mungkin paling memerlukan sosialisasi, karena secara psikologis masyarakat bisa menganggap dirinya jatuh miskin dengan kebijakan ini.

Biaya Vs Manfaat

Sejauh ini BI belum mengemukakan manfaat yang nyata dari redenominasi untuk perbaikan kondisi ekonomi Indonesia, selain dari manfaat efisiensi pencatatan secara akuntansi dan penyederhanaan sistem pembayaran.  Menurut penulis, jika manfaat hanya sebatas itu, sepertinya redenominasi belum terlalu penting untuk dilakukan, karena praktek akuntansi di Indonesia tidak pernah ada masalah dengan sistem mata uang yang berlaku sekarang.  Kalaupun praktisi akuntansi ingin menyederhanakan perhitungan laporannya, dapat diberikan keterangan “dalam jutaan rupiah” jika yang dihilangkan enam angka 0.

Demikian juga dengan sistem pembayaran, tidak pernah ada masalah yang berarti dengan transaksi-transaksi keuangan selama ini.  Justru dengan adanya redenominasi, sedikit banyak pasti dibutuhkan penyesuaian sistem informasi, terutama di lembaga-lembaga keuangan.  Jadi, sebelum kebijakan ini digulirkan, tentu saja harus sudah melalui kajian yang mendalam dan perhitungan manfaat yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk kebijakan ini.  Jangan sampai manfaatnya tidak sebanding dengan biayanya, bukankah orang tua kita dulu mendidik kita dengan peribahasa jangan lebih besar pasak daripada tiang.

“Bola Panas” sekarang ada ditangan BI, apakah bolanya akan ditendang atau tidak, tentunya tergantung sang pemegang bola.  Yang pasti, kalaupun kebijakan ini akhirnya digulirkan, masyarakat tidak perlu panik, karena redenominasi tidak akan mengurangi nilai uang yang kita miliki sedikitpun.  Wallahu’alam Bishawab.

Kategori:Keuangan Negara
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: